Selasa, 17 April 2012

Ulcus Portio


 ULCUS PORTIO



I.         PENGERTIAN
Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput lendir.
Ulcus portio adalah kerusakan local atau ekskatasi permukaan organ atau jaringan yang ditimbulkan oleh terkelupasnya jaringan nekrotik radang (Kamus Doland 1998 : 1132)

II.      ETIOLOGI
Walaupun dalam arti biologis sebabnya belum diketahui tapi ada keadaan tertentu yang berhubungan sangat erat sekali dengan penyaikit ini. Sehingga hal ini dianagap sebagai faktor-faktor etiologi, diantaranya :
-        Umumnya terjadi pada pasangan yang pasanganya tidak disunat, hal ini karena terdapat sekumpulan smegma pada penis.
-        Kawin muda, coitus pertama pada usia muda antara 15-20 tahun
-        Suka ganti-ganti pasangan
-        Paritas banyak

III.   TANDA DAN GEJALA
a.       Perdarahan
Sifatnya intermenstruil atau perdarahan banyak (ex : setclah berhubungan atau coitus (contact blooding))
b.      Keputihan
Menyerupai air tidak gatal kadang-kadang timbulnva sebelum ada perdarahan. Pada stadium lebih lanjut cairan yang keluar dari vagina lama-lama akan berbau busuk akibat nekrosis atau infeksi pada cairan tumor.

IV.   KOMPLIKASI
Terjadinya metastase ke tempat-tempat jauh (ex : hepar, paru-paru, otak dan lain-lain)

V.      PATOFISIOLOGI
orang yang tidak disunat
Kawin muda
Wanita yang suka
Ganti-ganti pasangan


 


Parietal banvak

Squamous cell / epidermoid




Timbul lesi disekitar ostium eksterna




Mengenai sebagian besar atau seluruh bibir portio



Tumor



Endofilik


Eksofilik


Terjadi pengrusakan jaringan serviks





 



Infeksi dan nekrosis di lumen
Terjadi ulcus


 


Prdarahan
infeksi
Keputihan


Anemia


Gangguan rasa nyaman



VI.   PENATALAKSANAAN
Motivasi ibu untuk dirujuk untuk medapatkan penanganan oleh dokter SpOG
Penatalaksanaan Medis
Jika ulcus portio merupakan gejala dari servicitis, maka penatalaksanaannva :
·         Antibiotika terutama bila ada gonococcus dan secret
·         Jika cervicitis tidak spesifik diobati dengan rendaman AgNO3 10% dan irigasi
·         Konisasi
Konisasi dilakukan bila
  1. proses dicurigai ada di endoserviks;
  2. lesi tidak tampak seluruhnya dengan kolposkopi;
  3. diagnosis mikroinvasif ditegakkan hanya dari biopsi
  4. ada kesenjangan antara hasil sitologi dan histologik
  5. pasien sukar di follow up secara terus menerus.

Konisasi ini dilakukan dengan pisau atau alat khusus dan jangan dengan alat hot cones. Konisasi mencakup ekso dan endoserviks. Konisasi dapat diarahkan dengan kolposkopi atau tes Schiller. Paling sedikit, kanalis servikalis terambil 50% tanpa mengenai ostium uteri intemum. Sesudah konisasi, dilanjutkan dengan kuretase sisa kanalis servikalis.

VII.KONSEP ASKEB
ASUHAN KFBIDANAN
Pada Ibu P.....dengan ULCUS PORTIO

I.         PFNGKAJIAN (TANGGAL......................JAM........)
A.       DATA SUBYEKTIF
1.        Biodata
Umur penderita 15-20 tahun dan wanita usia subur
2.        Keluhan Utama
Terdapat perdarahan dan keputihan
3.        Riwayat Kesehatan Sekarang
Perdarahan sifatnya intermenstruil atau perdarahan kontak, keputihan menyerupai air, tidak gatal kadang—kadang timbul sebelumnya ada perdarahan. Pada stadium lanjut cairan yang keluar dari vagina lama-lama akan berbau busuk.
4.        Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak mempengaruhi
5.        Riwayat Kesehatan dahulu
Terjadi pada ibu yang mempunyai riwayat erosi portio
6.        Riwayat Perkawinan
Kawin pada usia muda
7.        Riwayat Menstruasi
Menstruasi tidak teratur ex:hipermenore, bersifat intermenstruil
8.        Riwayat Obstetri
Paritas tinggi
9.        Riwayat KB
Akseptor AKDR sebagai salah satu factor predisposisi
10.    Pola Kebiasaan Sehari-hari
a.    Pola Seksual
-       Ganti-ganti pasangan
-       Frekuensi coitus tinggi
b.    Pola Nutrisi
Nutrisi jelek
c.    Pola Kebersihan
Genetalia kurang bersih

11.    Riwayat Psikososial
Ibu mengatakan cemas

B.       DATA OBYEKTIF
1.        Pemeriksaan Umum
TTV
TD : 100-120/ 80-90 mmHg                                          nadi : >90x/ menit
Suhu : febris (37,5 C)                                                    RR: 16-20x/ menit
2.        Pemeriksaan Fisik

-       Mata             :  Conjungtiva anemis
-       Mulut            :  Bibir dan lidah pucat
-       Genetalia      :    Inspekulo : Darah (+), Fluor albus (+), terdapat jaringan nekrotik pada portio
3.        Pemeriksaan penunjang
Pap smear
Preparat basah

II.      INTEPRETASI DATA DASAR
Dx     :    Ibu P....... dengan ulcus portio
DS    :    Ibu mengatakan perdarahan dan keputihan
DO    :    - Mata    : Conjungtiva anemis
-   Mulut  :Bibir dan lidah pucat
-       Genetalia : Darah(+)fluor albus (+), terdapat jaringan nekrotik pada portio
      Masalah : ibu merasa cemas
      Ds : ibu mengatakan saat ini merasa cemas akan keadaannya
      Do : ibu tampak cemas
              TTV : TD : >120/90 mmHg
                          Nadi: >90x/ menit

III.   ANTISPASI MASALAH POTENSIAL
-        Infeksi lebih lanjut/ meluas
-        Anemia

IV.   IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
-        Kolaborasi dengan dokter obgyn untuk pemberian terapi
-        Kolaborasi dengan dokter obgyn untuk tindakan selanjutnya

V.      INTERVENSI
1.      Jelaskan pada ibu tentang gejala akibat perdarahan dan keputihan
R/ : Ibu lebih tenang, dan mengerti teentang keadaannya
2.      Anjurkan ibu untuk Pap Smear tiap 6 bulan sekali
R/ : Mendeteksi apakah ada kelainan
3.      Anjurkan  ibu untuk menjaga kebersihan genetalia dengan mengganti celana dalam sesering mungkin
R/ : Mencegah perkembangan kuman
4.      Anjurkan ibu makan rnakanan bergizi / TKTP
R/ : Meningkatkan daya tahan tubuh dan mengganti sel yang rusak
5.      Anjurkan pada ibu untuk tidak berhubungan seksual sementara waktu sampai sembuh
R/ : Mencegah penularan penyakit dan memperburuk kondisi ibu
6.      Kolaborasi dengan dokter obgyn tentang terapi penyakit dan pengobatan­
R/ : Mendapat penanganan tepat

VI.   IMPLEMENTASI
Sesuai intervensi

VII.EVALUASI
S       : ibu mengatakan mengerti tentang penjelasan yang diberikan dan akan memeriksakan diri ke dokter obgyn
O    : ibu banyak bertanya dan dapat mengulang kembali penjelasan yang diberikan. Ibu juga tampak cemas
A    : ibu P........ dengan ulcus portio post konseling.
P     : Anjurkan ibu segera memeriksakan diri ke dokter obgyn





  
POLIP


PENGERTIAN
·      Polip adalah suatu adenoma maupun adenofibroma yang berasal dari selaput lendir endoserviks. (Ilmu Kandungan, 1999 ; 336)
·      Polip cervicis adalah pertumbuhan bertangkai vaskuler yang biasanya muncul pada endoserviks dan menonjol melebihi ostium uteri eksternum (Kegawat Daruratan Obstetri, 1994; 125)
·      Polip adalah setiap pertumbuhan atau massa yang menonjol dari membran mukosa. (Kamus Saku Kedokteran Dorland, 1998; 379)

ETIOLOGI
·      Penyebabnya belum jelas, meskipun penampilannya menggambarkan respon epitel endoserviks terhadap proses peradangan.
·      Polip dapat berkembang karena pengaruh radang maupun virus.

TANDA DAN GEJALA
Sering tidak menimbulkan apa-apa dan baru diketahui pada pemeriksaan rutin lainnya. Kalau besar dapat menyebabkan fluor dan perdarahan intermenstruil atau perdarahan kontak setelah coitus. Mengedan terlalu kuat seperti waktu defekas, dapat pula menyebabkan perdarahan.

DIAGNOSIS
Diagnosa ditegakkan atas dasar pemeriksaan
1.      Inspeksi      : melalui pemeriksaan inspekulo didapatkan polip tampak menonjol portio
2.      Palpasi        : melalui pemeriksaan bimanual didapatkan/teraba massa di atas suprapubik
3.      Biopsi         : ditemukan sel tumor pada jaringan yang diperiksa

PENANGANAN
·      Jika suatu polip prolaps melalui serviks maka polip dapat dipuntir putus dengan forcep polip
·      Ekstirpasi (pengangkatan atau penghancuran total jaringan polip)
·      Jika perdarahan akibat polip berlangsung, terus tindakan yang dilakukan adalah dilatasi dan kuretase
Kuretase adalah cara membersihkan hasil konsepsi memakai alat kuretase (sendok kerokan). Sebelum melakukan kuretase, penolong harus melakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan letak uterus, keadaan serviks dan besarnya uterus. Gunanya untuk mencegah terjadinya bahaya kecelakaan misalnya perforasi.
Persiapan Sebelum Kuretase:
1.      Persiapan Penderita
Lakukanlah pemeriksaan umum : Tekanan Darah, Nadi, Keadaan Jantung, dan Paru –    paru dan sebagainya.
Pasanglah infuse cairan sebagai profilaksis
2.      Persiapan Alat – alat Kuretase
Alat – alat kuretase hendaknya telah tersedia alam bak alat dalam keadaan aseptic (suci hama) berisi :
Speculum dua buah
Sonde (penduga) uterus
Cunam muzeus atau Cunam porsio
Berbagai ukuran busi (dilatator) Hegar
Bermacam – macam ukuran sendok kerokan (kuret)
Cunam abortus kecil dan besar
Pinset dan klem
Kain steril, dan sarung tangan dua pasang.
3.      Penderita ditidurkan dalam posisi lithotomi
4.      Pada umumnya diperlukan anestesi infiltrasi local atau umum secara IV dengan ketalar.
Teknik Kuretase
1.      Tentukan Letak Rahim.
Yaitu dengan melakukan pemeriksaan dalam. Alat – alat yang dipakai umumnya terbuat dari metal dan biasanya melengkung karena itu memasukkan alat – alat ini harus disesuaikan dengan letak rahim. Gunanya supaya jangan terjadi salah arah (fase route) dan perforasi.
2.      Penduga Rahim (Sondage)
Masukkan penduga rahim sesuai dengan letak rahim dan tentukan panjang atau dalamnya penduga rahim. Caranya adalah, setelah ujung penduga rahim membentur fundus uteri, telunjuk tangan kanan diletakkan atau dipindahkan pada portio dan tariklah sonde keluar, lalu baca berapa cm dalamnya rahim.
3.      Dilatasi
Bila permukaan serviks belum cukup untuk memasukkan sendok kuret, lakukanlah terlebih dulu dilatasi dengan dilatator atau Bougie Hegar. Peganglah busi seperti memegang pensil dan masukkanlah hati – hati sesuai letak rahim. Untuk sendok kuret terkecil biasanya diperlukan dilatasi sampai Hegar nomor 7. Untuk mencegah kemungkinan perforasi usahakanlah memakai sendok kuret yang agak besar, dengan dilatasi yang lebih besar.
4.      Kuretase
Seperti telah dikatakan, pakailah sendok kuret yang agak besar. Memasukkannya bukan dengan kekuatan dan melakukan kerokan biasanya mulailah di bagian tengah. Pakailah sendok kuret yang tajam (ada tanda bergerigi) karena lebih efektif dan lebih terasa sewaktu melakukan kerokan pada dinding rahim dalam (seperti bunyi mengukur kelapa). Dengan demikian kita tahu bersih atau tidaknya hasil kerokan.
5.      Cunam Abortus
Pada abortus inisipiens, dimana sudah kelihatan jaringan, pakailah cunam abortus untuk mengeluarkannya yang biasanya diikuti oleh jaringan lainnya. Dengan demikian sendok kuret hanya dipakai untuk membersihkan sisa – sisa yang ketinggalan saja.
6.      Perhatian :
Memegang, mamasukkan dan menarik alat – alat haruslah hati – hati. Lakukanlah dengan lembut (with lady’s hand) sesuai dengan arah dan letak rahim.
 

ASUHAN KEBIDANAN
Pada Ibu P10001 dengan POLIP CERVIKS

I.         PENGKAJIAN
A.       Data Subjektif
1.    Biodata
sering terjadi pada usia 40-60 tahun (Ginekologi Greenhill, 1988 : 46)
2.    Keluhan Utama
Ibu mengatakan mengalami perdarahan bercak, perdarahan di luar siklus haid, perdarah yang banyak saat haid, perdarahan setelah bersenggama, perdarahan post menopause.
3.    Riwayat Kesehatan Sekarang
lbu mengatakan mengalami perdarahan bercak di luar siklus haid dalam jumlah banyak
4.    Riwayat Kesehatan Dahulu
Ibu pemah mernpunyai riwayat polip
5.    Riwayat Kesehatan Keluarga
-
6.    Riwayat Menstruasi
Siklus       :  tidak teratur
Banyak     :  lebib dari 4 duk/hari
HPHT       : menyingkirkan kehamilan
Fluor albus : (+)
7.    Riwayat Obstetri
Polip sering terjadi pada paritas rendah
8.    Riwayat KB
lbu pernah menggunakan KB hormonal dengan kadar estrogen yang tinggi
9.    Pola Kebiasaan Sehari-hari
Nutrisi                  : -
Eliminasi              :  konstipasi / obstipasi
Aktivitas              :  -
Isfirahat                :  -
Personal hygine    :  -
Aktivitas seksual  : menurun (dyspareuni)

B.       Data Objektif
1.    Pemeriksaan Umum
Keadaan umum    : baik
Kesadaran                        :  compos mentis
Tekanan darah      :  DBN
Nadi                     :  tachicardi (>80x/menit)
Suhu                     :  dBN
RR                        :  Meningkat (>24x/menit)
2.    Pemeriksaan Fisik
Wajah                   :  tampak pucat
Mata                     :  sklera putih, konjungtiva pucat
Abdomen                         :  pada pemeriksaan paipasi teraba massa di atas supra pubis
Genital                 :  bercak darah (+), Fluor albus (+)
3.    Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Bimanual     :  teraba massa di daerah portio
Pemeriksaan Inspekulo    :  polip tampak kemerahan di portio
Pemeriksaan USG            :  tampak gambaran polip bertangkai

II.      IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH
Diagaosa : ibu P........... dengan Polip Cerviks
DS            : ibu mengatakan mengalami perdarahan bercak di luar siklus haid, perdarahan banyak pada saat haid dan mengalami perdarahan setelah bersenggama
 DO          :  Tekanan darah          :  DBN
 Nadi                         :  tachicardi(>80x/menit)
 Suhu                         :  dBN
RR                             : meningkat (>24x/menit)
Wajah                        : tampak pucat
Mata                          : sklera putih, konjungtiva pucat
Abdomen                 :    pada pemeriksaan palpasi teraba massa di atas supra pubis
Genital                     :    bercak darah (+), Fluor albus (+)
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Bimanual            :  teraba massa di daerah portio
Pemeriksaan Inspekulo           :  polip tampak kemerahan di portio
Pemeriksaan USG                   :  tampak gambaran polip bertangkai
Hb                                           : bila ibu tampak anemia

Masalah    : ibu merasa cemas
DS            : ibu mengatakan cemas dengan keadaannya saat ini
Do            : Nadi : cepat
III.   ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL
-        Tumor ganas
-        Anemia
-        Syok neurogenik
IV.   IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
-        Pengangkatan polip
V.      INTERVENSI
1.      Jelaskan kepada ibu tentang keadaannya
Rasional   : Pengetahuan ibu meningkatkan dan ibu kooperatif dengan tindakan yang akan dilakukan
2.      Berikan pengertian pada ibu dan suami tentang keadaan ibu dalam hal pemenuhan kebutuhan psikoseksual (ibu mengatami dyspareuni)   
Rasional : menjaga keharmonisan keluarga
3.      Kolaborasi dengan dokter dalam hal penatalaksanaan polip
Rasional : tugas interdependen dalam menangani kasus giekologi
4.      Kolaborasi dengan dokter dalam pengangkatan polip cerviks
Rasional : pengangkatan massa polip dan mencegah terjadinya keganasan
5.      Berikan dukungan mental spiritual kepada ibu
Rasional : mengurangi kecemasan ibu dan ibu lebih siap datam pelaksanaan terapi
6.      Lakukan tranfusi darah,pemberian infus(bila terjadi anemia)
Rasional : memperbaiki KU ibu
VI.   IMPLEMENTASI
Sesuai intervensi
VII.EVALUASI
S   :  ibu mengatakan mengerti dg penjelasan yang diberikan dan bersedia dilakukan    tindakan pengangkatan polip
O  :  Keadaan umum        : baik
Tekanan darah          : dBN                                                                       
Nadi                          : tachikardi(>80x/menit)
Suhu              :  dBN
RR                :  meningkat(>24x/menit)
A : ibu P…… post pengangkatan polip
P   : -rencana tindakan ekstirpasi

 
DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F. Gary. 2005, Obstetri Wiliams. Jakarta : EGC.
Duenhoelley, Johann. 1998. Ginekologi Grenhill. Jakarta: EGG
Kumala, Poppy dkk. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta EGG
Winkjosastro, Hanifa 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Taber, Ben-zion. 1994. Kapita Selekta Kedokteran Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC.

0 komentar:

Poskan Komentar

Beri komentar bijak Anda kepada kami...!!!

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.