Senin, 16 April 2012

Letak Sungsang


LANDASAN TEORI

1. Definisi
Kehamilan sungsang adalah Kehamilan pada bayi dengan presentasi bokong (sungsang) dimana bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu, kepala berada pada fundus uteri, sedangkan bokong merupakan bagian terbawah di daerah pintu atas panggul atau simfisis. (Prof.Dr.Ida Bagus Gede Manuaba,SpOG,1998)
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri (http://www.scribd.com/doc/12863508/Letak-Sungsang-lengkap)
Letak Sungsang adalah janin yang letaknya memanjang (membujur) dalam rahim, kepala berada di fundus dan bokong di bawah (Rustam M, 1998:350).

2. Persalinan Letak Sungsang
Kejadian letak sungsang berkisar antara 2-3% bervariasi di berbagai tempat. Sekalipun kejadian kecil, tetap mempunyai penyulit yang besar dengan angka kematian sekitar 20-30% . ( Sarwono Prawirohardjo,2002)
Pada letak kepala, kepala yang merupakan bagian terbesar lahir terlebih dahulu, sedangkan pesalinan letak sungsang justru kepala yang merupakan bagian terbesar bayi akan lahir terakhir.
Persalinan kepala pada letak sungsang tidak mempunyai mekanisme “Maulage” karena susunan tulang dasar kepala yang rapat dan padat, sehingga hanya mempunytai waktu 8 menit, setelah badan bayi lahir. Keterbatasan waktu persalinan kepala dan tidak mempunyai mekanisme maulage dapat menimbulkan kematian bayi yang besar (Prof.Dr.Ida Bagus Gede Manuaba,SpOG,1998).

3. Bentuk-Bentuk Letak Sungsang (Prof.Dr.Ida Bagus Gede Manuaba,SpOG,1998)).
Berdasarkan komposisi dari bokong dan kaki dapat ditentukan bentuk letak sungsang sebagai berikut :

A.    Letak Bokong Murni
1.      Teraba bokong
2.      Kedua kaki menjungkit ke atas sampai kepala bayi
3.      Kedua kaki bertindak sebagai spalk
B.     Letak Bokong Kaki Sempurna
1.      Teraba bokong
2.      Kedua kaki berada di samping bokong
C.     Letak Bokong Tak Sempurna
1.      Teraba bokong
2.      Disamping bokong teraba satu kaki
D.    Letak Kaki
1.      Bila bagian terendah teraba salah satu dan atau kedua kaki atau lutut
2.      Dapat dibedakan letak kaki bila kaki terendah ; letak bila lutut terendah

Untuk menentukan berbagai letak sungsang dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan dalam, pemeriksaan foto abdomen, dan pemeriksaan ultrasonografi.

  • Letak Bokong Murni (frank breech)  yaitu bokong saja yang menjadi bagian depan sedangkan kedua tungkai lurus ke atas. Posisi ini yang tersering dan meliputi hampir 2/3 presentasi bokong.

  • Letak Bokong Kaki Sempurna (complete breech) disamping bokong teraba kaki, tungkai atas lurus keatas, tungkai bawah ekstensi

  • imagesLetak Bokong Tak Sempurna / lutut (incomplete breech) yaitu letak sungsang dimana selain bokong bagian yang terendah juga kaki atau lutut. Incomplete breech terdapat 2 jenis yaitu letak lutut (presentasi lutut), dan letak kaki (presentasi kaki).














Posisi bokong ditentukan oleh sacrum, ada 4 posisi :
a.       Left sacrum anterior (sacrum kiri depan)
b.      Right sacrum anterior (sacrum kanan depan)
c.       Left sacrum posterior (sacrum kiri belakang)
d.      Right sacrum posterior (sacrum kanan belakang)

4.       Insiden
Letak sungsang terjadi pada 3-4% dari seluruh persalinan. Kejadian letak sungsang berkurang dengan bertambahnya usia kehamilan. Letak sungsang pada usia kehamilan kurang dari 28 minggu sebesar 25%, pada kehamilan 32 minggu 7% dan, 1-3% pada kehamilan aterm.

5.      Etiologi
Penyebab letak sungsang dapat berasal dari :

1.      Sudut Ibu
a.       Keadaan rahim
1)      Rahim arkuatus
2)      Septum pada rahim
3)      Uterus dupleks
4)      Mioma bersama kehamilan
b.      Keadaan plasenta
1)      Plasenta letak rendah
2)      Plasenta previa
c.       Keadaan jalan lahir
1)      Kesempitan panggul
2)      Deformitas tulang panggul
3)      Terdapat tumor menjalani jalan lahir dan perputaran ke posisi kepala

2.      Sudut janin
Pada janin tedapat berbagai keadaan yang menyebabkan letak sungsang :
1)      Tali pusat pendek atau lilitan tali pusat
2)      Kelainan bentuk kepala : hydrocephalus, anencephalus, karena kepala kurang sesuai dengan bentuk pintu atas panggul
3)      Kehamilan kembar
4)      Hidramnion atau oligohidramion
5)      Prematuritas.

Dalam keadaan normal, bokong mencapai tempat yang lebih luas sehingga terdapat kedudukan letak kepala. Disamping itu kepala janin merupakan bagian terbesar dan keras serta paling lambat. Melalui hukum gaya berat, kepala janin akan menuju kearah pintu atas panggul. Dengan gerakan kaki janin, ketegangan ligamentum rotundum dan kontraksi braxson hicks, kepala janin berangsur-angsur masuk ke pintu atas panggul.

6.       Diagnosis
1.      Pemeriksaan abdominal
a.       Letaknya adalah memanjang.
b.      Pada palpasi teraba bagian keras, bundar, dan melenting pada fundus uteri. Punggung anak dapat diraba pada salah satu sisi perut dan bagian – bagian kecil pada pihak yang berlawanan. Di atas symphisis teraba bagian yang kurang bundar dan lunak.
c.       Pergerakan anak teraba oleh si ibu di bagian perut bawah, di bawah pusat, dan ibu sering merasa benda keras (kepala) mendesak tulang iga.

2.      Denyut jantung janin
Denyut jantung janin terdengar paling keras pada atau di atas umbilicus dan pada sisi yang sama pada punggung. Pada RSA (Right Sacrum Antorior) denyut jantung janin terdengar paling keras di kuadrat kanan atas perut ibu kadang-kadang denyut jantung janin terdengar di bawah umbilicus

3.      Pemeriksaan vaginal
1.      Bagian terendah teraba tinggi
2.      Tidak teraba kepala yang keras, rata dan teratur dengan garis-garis sutura dan fantenella. Hasil pemeriksaan negatif ini menunjukkan adanya mal presentasi.
3.      Bagian terendahnya teraba lunak dan ireguler. Anus dan tuber ichiadicum terletak pada satu garis. Bokong dapat dikelirukan dengan muka.
4.      Kadang-kadang pada presentasi bokong murni sacrum tertarik ke bawah dan teraba oleh jari-jari pemeriksa. Ia dapat dikelirukan dngan kepala oleh karena tulang yang keras.
5.      Sakrum ada di kuadran kanan depan panggul dan diameter gitochanterika ada pada diameter obligua kanan.

4.      Pemeriksaan Sinar X
Sinar X menunjukkan dengan tepat sikap dan posisi janin, demikian pula kelainan-kelainan seperti hydrocephalus.

7.      Mekanisme persalinan letak sungsang fisiologis
·         Mekanisme Turunnya Bokong
Mekanisme persalinan hampir sama dengan letak kepala, hanya disini yang memasuki pintu atas panggul adalah bokong. Persalinan berlangsung agak lama, karena bokong dibandingkan dengan kepada lebih lembek, jadi kurang kuat menekan, sehingga pembukaan agak lama.
Bokong masuk ke dalam rongga panggul dengan garis pangkal paha melintang atau miring. Setelah menyentuh dasar panggul terjadi putaran paksi dalam, sehingga di pintu bawah panggul garis panggul paha menempati diameter anteposterior dan trokhanter depan berada dibawah simpisis. Kemudian terjadi fleksi lateral pada badan janin, sehingga trokhanter belakang melewati perineum dan lahirlah seluruh bokong diikuti oleh kedua kaki. Setelah bokong lahir terjadi putaran paksi luar dengan perut janin berada di posterior yang memungkinkan bahu melewati pintu atas panggul dengan garis terbesar bahu melintang atau miring. Terjadi putaran paksi dalam pada bahu, sehingga bahu depat berada dibawah simfisis dan bahu belakang melewati perineum. Pada saat tersebut kepala masuk ke dalam rongga panggul dengan sutura sagistalis melintang atau miring. Di dalam rongga panggul terjadi putaran paksi dalam kepala, sehingga muka memutar ke posterior dan oksiput ke arah simfisis. Dengan suboksiput sebagai hipomoklion, maka dagu, mulut, hidung, dahi dan seluruh kepala lahir berturut-turut melewati perineum.

·         Mekanisme persalinan letak sungsang berlangsung sebagai berikut :
a)    Persalinan bokong
b)   Persalinan bahu
c)    Persalinan kepala
( Prof. Dr. Ida Bagus Gede Manuaba, SPOG,1998)
bokong masuk pintu atas panggul dapat melintang atau miring mengikuti jalan lahir dan melakukan putaran paksi dalam sehingga trochanter depan berada di bawah simfisis. Dengan trochanter depan sebagai hipomoklion akan lahir trochanter belakang dan selanjutnya seluruh bokong lahir untuk melakukan putaran paksi dalam sehingga bahu depan berada dibawah simfisis. Dengan bahu depan sebagai hipomoklion akan lahir bahu belakang bersama dengan tangan belakang diikuti kelahiran bahu depan dan tangan depan.
Bersamaan dengan kelahiran bahu, kepala bayi memasuki jalan lahir dapat melintang atau miring, serta melakukan putaran paksi dalam sehingga suboksiput berada di bawah simfisis. Suboksiput menjadi hipomoklion, berturut-turut akan lahir dagu, mulut, hidung, muka dan kepala seluruhnya.
Persalinan kepala mempunyai waktu terbatas sekitar 8 menit, setelah bokong lahir. Melampaui batas 8 menit dapat menimbulkan kesakitan /kematian bayi  ( Prof. Dr. Ida Bagus Gede Manuaba, SPOG,1998).
Konsep Penatalaksanaan Letak Sungsang (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal,2002)
Pertolongan persalinan letak sungsang memerlukan perhatian karena dapat menimbulkan komplikasi kesakitan, cacat permanen sampai dengan kematian bayi. Menghadapi kehamilan letak sungsang dapat diambil tindakan :
Menurut Sarwono Prawirohardjo, berdasarkan jalan lahir yang dilalui, maka persalinan sungsang dibagi menjadi :

1.        Persalinan Pervaginam
a.       Spontaneous breech (Bracht)
b.      Extraksi Partiil (manual aid)
c.       Total extraction

2.        Persalinan per abdominal : Seksio Sesaria
Indikasi untuk sectio caesaria antaranya panggul sempit, anak yang besar terutama primigravida dan tali pusat yang menumbung.

8.      Prosedur Persalinan Bayi Sungsang

·         Langkah klinik
1.Persetujuan tindakan medik
2.Persiapan Pasien :
a)      Ibu dalam posisi litotomi pada tempat tidur persalinan
b)      Mengosongkan kandung kemih , rektum serta membersihkan daerah perenium dengan antiseptik
Instrumen :
b)      Perangkat untuk persalinan
c)      Perangkat untuk resusitasi bayi
d)     Uterotonika (Ergometrin maleat, Oksitosin)
e)      Anastesi lokal (Lidokain 2%)
f)       Cunam piper, jika tidak ada sediakan cunam panjang
g)      Semprit dan jarum no.23 (sekali pakai)
h)      Alat-alat infus
i)        Povidon Iodin 10%
j)        Perangkat episiotomi dan penjahitan luka episiotomi
3.Persiapan Penolong
a)      Pakai baju dan alas kaki ruang tindakan, masker dan kaca mata pelindung
b)      Cuci tangan hingga siku dengan di bawah air mengalir
c)      Keringkan tangan dengan handuk DTT
d)     Pakai sarung tangan DTT / steril
e)      Memasang duk (kain penutup)
4.Tindakan Pertolongan Partus Sungsang
a)      Lakukan periksa dalam untuk menilai besarnya pembukaan, selaput ketuban dan penurunan bokong serta kemungkinan adanya penyulit.
b)      Intruksikan pasien agar mengedan dengan benar selama ada his.
c)      Pimpin berulang kali hingga bokong turun ke dasar panggul, lakukan episiotomi saat bokong membuka vulva dan perineum sudah tipis.
d)     Melahirkan bayi :

                                             I.      Persalinan spontan ( spontan Bracht)
janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri. Cara ini disebut Bracht. Prosedur persalinan sungsang secara spontan :
  1. Tahap lambat : mulai lahirnya bokong sampai pusar merupakan fase yang tidak berbahaya.
  2. Tahap cepat : dari lahirnya pusar sampai mulut, pada fase ini kepala janin masuk PAP, sehingga kemungkinan tali pusat terjepit.
  3. Tahap lama : lahirnya mulut sampai seluruh bagian kepala, kepala keluar dari ruangan yang bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar yang tekanannya lebih rendah sehingga kepala harus dilahirkan perlahan-lahan untuk menghindari pendarahan intrakranial (adanya tentorium cerebellum).

v  Teknik persalinan Bracht
Pertolongan dimulai setelah bokong anak lahir. Pada letak bokong, bokong ini dipegang dengan 2 tangan sedemikian rupa, hingga kedua ibu jari pada permukaan belakang pangkal paha dan jari – jari lainnya pada permukaan bokong.
Kalau kaki sudah lahir seperti pada letak bokong kaki, letak lutut dan letak kaki maka bokong dipegang sedemikian rupa hingga kedua ibu jari terletak pada lipat paha dan jari lainnya menggenggam bokong.
Bokong ini dibawa keatas, ke arah perut ibu dan sedikit ke kiri atau ke kanan sesuai dengan letaknya punggung anak: sama sekali tidak boleh dilakukan tarikan karena dengan tarikan lengan dapat menjungkit.
Bokong ini terus dibawa ke atas ke arah perut ibu sampai kepala lahir. Keuntungan dari pertolongan secara Bracht ialah bahwa tangan sama sekali tidak masuk ke dalam jalan lahir, yang mengecilkan kemungkinan infeksi serta mengurangi trauma pada janin.

v  Indikasi
 jika persalinan secara bracht mengalami kegagalan misalnya terjadi kemacetan saat melahirkan bahu atau kepala.Tahapan :
1.         Lahirnya bokong sampai pusar yang dilahirkan dengan tenaga ibu sendiri.
2.         Lahirnya bahu dan lengan yang memakai tenaga penolong dengan cara klasik (Deventer), Mueller, Louvset, Mauriceau, cunam piper.
3.         Lahirnya kepala dengan cara Mauriceau (Veit Smellie), de Sno, Wigand Martin – Winckel, Prague Terbalik, Neujoks.










                II.          Ektsraksi parsiil ( manual aid)
Biasanya letak sungsang dapat lahir spontan sampai pusat lahir karena rintangan timbul pada waktu kelahiran bahu. Kalau pusat sudah lahir dantidak ada kemajuan misalnya karena HIS lemah atau karena rintangan bahu maka tidak boleh kita menunggu terlalu lama karena pada saat ini kepala mulai masuk kedalam rongga panggul dan menekan tali pusat pada dinding panggul hingga anak harus dilahirkan dalam ± 8 menit.
Untuk melahirkan anak dalam keadaan ini kita pergunakan ekstraksi parsiil / manual aid.
Tehnik :
Panggul dipegang begitu rupa hingga ibu jari berdampingan pada os sacrum. Kedua jari telunjuk pada crista iliaca dan jari lainnya menggenggam bokong dan pangkal paha. Sekarang dilakukan tarikan ke bawah kearah kaki penolong sampai ada rintangan. Pada saat ini kita dapat melahirkan bahu dengan :

ü  Melahirkan bahu dan lengan :
A)    Cara Klasik
a)         Prinsip-prinsip melahirkan lengan belakang lebih dahulu karena lengan belakang berada di ruangan yang lebih besar (sacrum), baru kemudian melahirkan lengan depan di bawah simpisis tetapi jika lengan depan sulit dilahirkan maka lengan depan diputar menjadi lengan belakang, yaitu dengan memutar gelang bahu ke arah belakang dan kemudian lengan belakang dilahirkan.
b)        Kedua kaki janin dilahirkan dan tangan kanan menolong pada pergelangan kakinya dan dielevasi ke atau sejauh mungkin sehingga perut janin mendekati perut ibu.
c)         Bersamaan dengan itu tangan kiri penolong dimasukkan ke dalam jalan lahir dan dengan jari tengah dan telunjuk menelusuri bahu janin sampai fossa cubiti kemudian lengan bawah dilahirkan dengan gerakan seolah-olah lengan bawah mengusap muka
janin.
d)        Untuk melahirkan lengan depan, pegangan pada pergelangan kaki janin diganti dengan tangan kanan penolong dan ditarik curam ke bawah sehingga punggung janin mendekati punggung ibu.
e)         Dengan cara yang sama lengan depan dilahirkan.
f)         Jika lengan depan sukar dilahirkan, maka harus diputar menjadi lengan belakang. Gelang bahu dan lengan yang sudah lahir dicengkram dengan kedua tangan penolong sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari tangan penolong terletak di punggung dan sejajar dengan sumbu badan janin sedang jari-jari lain mencengkram dada. Putaran diarahkan ke perut dan dada janin sehingga lengan depan terletak di belakang kemudian lengan dilahirkan dengan cara yang sama.




















B)       Cara Muller
Pengeluaran bahu dan tangan secara Muller dilakukan jika dengan cara Bracht bahu dan tangan tidak bisa lahir.
1)        Melahirkan bahu depan terlebih dahulu dengan menarik kedua kaki dengan cara yang sama seperti klasik, ke arah belakang kontra lateral dari letak bahu depan.
2)        Setelah bahu dan lengan depan lahir dilanjutkan langkah yang sama untuk melahirkan bahu dan lengan belakang.

Keuntungan : Tangan penolong tidak masuk jauh ke dalam jalan lahir sehingga bahaya infeksi minimal.

















C)       Cara Lovset (Dilakukan bila ada lengan bayi yang terjungkit di belakang kepala / nuchal arm)
1)        Setelah bokong dan kaki bayi lahir memegang bayi dengan kedua tangan.
2)        Memutar bayi 180o dengan lengan bayi yang terjungkit ke arah penunjuk jari tangan yang muchal.
3)        Memutar kembali 180o ke arah yang berlawanan ke kiri atau ke kanan beberapa kali hingga kedua bahu dan lengan dilahirkan secara Klasik atau Muller.












D)          Cara Mauriceau (Veit-Smellie) :
1.    Tangan penolong yang sesuai dengan muka janin dimasukkan ke dalam jalan lahir. Jari tengah dimasukkan ke dalam mulut dan jari telunjuk dan jari ke 4 mencengkram fossa kanina, sedangkan jari lain mencengkeram leher. Badan anak diletakkan di atas lengan bawah penolong, seolah-olah janin menunggang kuda. Jari telunjuk dan jari ke 3 penolong yang lain mencengkeram leher janin dari arah punggung.
2.    Kedua tangan penolong menarik kepala  janin curam ke bawah sambil seorang asisten melakukan ekspresi kristeller. Tenaga tarikan terutama dilakukan oleh tangan penolong yang mencengkeram leher janin dari arah punggung. Jika suboksiput tampak di bawah simpisis, kepala janin diekspasi ke atas dengan suboksiput sebagai hipomoklion sehingga berturut-turut lahir dagu, mulut, hidung, mata, dahi, ubun-ubun besar dan akhirnya lahir seluruh kepala janin.












ü  Melahirkan Kepala
  1. Mauriceau (veit smellie)
Masukkan jari – jari dalam mulut (muka mengarah ke kiri = jari kiri, menagarah ke kanan = jari kanan). Letakkan anak menunggang pada lengan sementara tangan lain memegang pada tengkuk, lalu tarik ke bawah sampai rambut dan kepala  dilahirkan. Kegunaan jari dalam mulut, hanya untuk menambah fleksi kepala.





  1. de Sno
Tangan kiri menadah perut dan dada serta 2 jari diletakkan di leher (menunggang kuda). Tangan kanan menolong menekan di atas simphisis. Perbedaannya dengan Maruriceau ialah disini tangan tidak masuk dalam vagina.

  1. Wigand Martin – Winckel
Satu tangan (kiri) dalam jalan lahir dengan telunjuk dalam mulut janin sedang jari tengah dan ibu jari pada rahang bawah. Tangan lain menekan ke atas simphisis atau fundus.

  1. Neujoks
Satu tangan memegang leher janin dari depan, tangan lain memegang leher pada bahu, tarik janin ke bawah dengan bantuan dorongan dari atas simphisis.

  1. Cara Praque terbalik
Dilakukan pada ubun-ubun kecil terletak sebelah belakang. Satu tangan memegang bahu janin dari belakang. Tangan lain memegang kaki lalu menarik janin kea rah perut ibu dengan kuat.

             III.          Ekstraksi
Kita lakukan  ekstraksi pada letak sungsang kalau kita menarik anak keluar pada waktu seluruh tubuh anak masih ada dalam jalan lahir. Ekstraksi ada 2 macam yaitu ekstraksi pada kaki dan ekstraksi bokong. Ekstraksi pada bokong hanya dilakukan jika ekstraksi pada kaki tidak mungkin.
A). Ekstraksi Kaki
Dilakukan bila kala II tidak maju atau tampak gejala kegawatan ibu-bayi. Keadaan bayi / ibu mengharuskan bayi segera dilahirkan.
1)        Tangan kanan masuk secara obstetrik melahirkan bokong, pangkal paha sampai lutut, kemudian melakukan abduksi dan fleksi pada paha janin sehingga kaki bawah menjadi fleksi,tangan yang lain mendorong fundus ke bawah. Setelah kaki fleksi pergelangan kaki dipegang dengan dua jari dan dituntun keluar dari vagina sampai batas lutut.
2)        Kedua tangan penolong memegang betis janin, yaitu kedua ibu jari diletakkan di belakang betis sejajar sumbu panjang paha dan jari-jari lain di depan betis, kaki ditarik turun ke bawah sampai pangkal paha lahir.
3)        Pegangan dipindah ke pangkal paha sehingga mungkin dengan kedua ibu jari di belakang paha, sejajar sumbu panjang paha dan jari lain di depan paha.
4)        Pangkal paha ditarik curam ke bawah sampai trokhanter depan lahir kemudian pangkal paha dengan pegangan yang sama dievaluasi ke atas hingga trokhanter belakang lahir. Bila kedua trokhanter lahir berarti bokong telah lahir.
5)        Sebaliknya bila kaki belakang yang dilahirkan lebih dulu, maka yang akan lahir lebih dahulu ialah trokhanter belakang dan untuk melahirkan trokhanter depan maka pangkal paha ditarik terus cunam ke bawah.
6)        Setelah bokong lahir maka dilanjutkan cara Clasik , atau Muller atau Lovset.

B). Ekstraksi Bokong
Dikerjakan bila presentasi bokong murni dan bokong sudah turun di dasar panggul, bila kala II tidak maju atau tampak keadaan janin lebih dari ibu yang mengharuskan bayi segera dilahirkan.
1)      Jari penunjuk penolong yang searah dengan bagian kecil janin, dimasukkan kedalam jalan lahir dan diletakkan dilipatan paha bagian depan. Dengan jari ini lipat paha atau krista iliaka dikait dan ditarik curam ke bawah. Untuk memperkuat tenaga tarikan ini, maka tangan penolong yang lain menekam pergelangan tadi dan turut menarik curam ke bawah.
2)      Bila dengan tarikan ini trokhanter depan mulai tampak di bawah simfisis, maka jari telujuk penolong yang lain mengkait lipatan paha ditarik curam ke bawah sampai bokong lahir.
3)      Setelah bokong lahir, bayi dilahirkan secara Clasik , atau Muller atau Lovset.













5. Manajemen Kala III
1. Lahirkan plasenta secara spontan atau manual apabila ada indikasi.
2. Luka episiotomi atau robekan perenium dijahit.
3. Beri Uterustonika atau medikamentosa yang diperlukan.
4. Awasi kala IV.
5. Lakukan pemeriksaan dan pengawasan nifas.
6. Dokumentasi
7. Cuci tangan pasca tindakan
a.       1.Periksa kembali tanda vital pasien, segera buat intruksi bila diperlukan.
2.Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan dalam kolom yang tersedia.
b.      Beri tahu pada pasien pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai dilakukan dan masih memerlukan perawatan.
c.       Jelaskan pada petugas tentang perawatan, jadwal pengobatan dan pemantauan sejak gejala-gejala yang harus diwaspadai.
(Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal,2002)

9.      Prognosis
Prognosa bagi ibu pada letak sungsang tak banyak berbeda pada letak kepala; biasanya ruptura perineum lebih sering terjadi. Sebaliknya, prognosa bagi anak dengan letak sungsang lebih buruk terutama kalau anaknya besar dan ibunya seorang primi gravida.
Kematian anak ± 14 %. Kalau kematian karena prematuritas dikurangi maka kematian anak dengan letak sungsang tetap 3X lebih besar daripada kematian anak letak kepala.

10.  Sebab – sebab kematian anak pada letak sungsang
1)      Setelah pusat lahir, maka kepala anak mulai masuk ke dalam rongga panggul, sehingga tali pusat tertekan antara kepala dan rongga panggul. Diduga bahwa kepala harus lahir dala 8 menit, sesudah pusat lahir supaya anak dapat lahir dengan semangat.
2)      Pada letak sungsang dapat terjadi perdarahan otak karena kepala dilahirkan dengan cepat
3)      Dapat terjadi kerusakan dari tulang belakang karena tarikan pada badan anak
4)      Pada letak sungsang lebih sering terjadi prolapsus foeniculi, karena bagian depan kurang baik menutup bagian bawah rahim. (Obstetri Patologi: 178)




DAFTAR PUSTAKA


·         Wiknjosastro H. persalinan Sungsang. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 2007.

·         Mochtar R. Persalinan Sungsang. Sinopsis Obstetri, edisi ke-2. EGC, Jakarta 1998.

·         Bagian Obstetri dan Ginecologi FK Universitas Padjajaran Bandung. 1984. Obstetri Patologi. Bandung: Elstar offset.


·         http://bunciet.files.wordpress.com/2009/04/sungsang1.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 





 

 

ASKEB TEORI

PADA IBU G.P.... HAMIL 28-32 MGG ATAU ATERM I/T/H
INPARTU KALA.... FASE....
dengan LETAK SUNGSANG

Tempat pengkajian      :
Tanggal / waktu          :
Pengkaji                      :

I.     PENGKAJIAN
A.            DATA SUBJEKTIF
1.      Biodata Ibu dan Suami
Nama, agama, suku, pendidikan, pekerjaan, alamat              
Umur   : Untuk mengetahui resiko tinggi terjadinya resiko kehamilan (< 16 thn, > 35 thn)
2.      Keluhan Utama
Keluhan yang mendorong ibu untuk memeriksakan keadaan kepada tenaga kesehatan (bidan). Keluhannya yaitu :
a.   ibu mengatakan sering merasa benda keras (kepala) mendesak tulang iga.
b.  ibu mengatakan sering merasa pergerakan janin pada bagian bawah perut
3.      Riwayat Kesehatan Sekarang
Pengkajian tentang riwayat kesehatan sekarang yang dialami ibu sebagai dasar dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan oleh bidan.
4.       Riwayat Kesehatan Dahulu
Pengkajian tentang riwayat kesehatan dahulu yang dialami ibu sebagai dasar dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan oleh bidan.
5.      Riwayat Kesehatan Keluarga
Sebagai pendukung riwayat kesehatan yang dialami ibu sekarang. Adanya riwayat gemeli pada keluarga merupakan potensi bayi sungsang.

6.      Riwayat Menstruasi
Ø  Menarche      :
Ø  Lama            :
Ø  Konsistensi   :
Ø  Jumlah          :
Ø  Fluor Albus  :
Ø  Disminorhoe :
Ø  HPHT           :
Ø  HTP              :
7.      Riwayat Pernikahan
Usia menikah, lama menikah, status pernikahan, pernikahan ke-,  pengambilan keputusan dalam keluarga
8.      Riwayat Obstetri
Kehamilan letak sungsang pada umumnya terjadi pada ibu multiparitas
NO
kehamilan
Persalinan
anak
nifas
Laktasi
ke
usia
komp
Tgl
jns
penlng
tmp
komp
Sex
L/P
BB/PB
H/M
T/G
usia
Lama
Komp
Lama
Komp


















9.      Riwayat KB
KB yang pernah digunakan, lamanya penggunaan, komplikasi
10.  Riwayat kehamilan sekarang
ANC : - Berapa kali :
o   TM I
o   TM II
o   TM III
 Obat yang di dapat :                  jumlah       =
 Imunisasi TT         :                 berapa kali =                       tanggal pemberian :
Tempat                   :
Obat yang di dapat     :                                               jumlah :
Merasakan gerakan janin sejak uisa     :
Keluhan           Trimester I       :
                        Trimester II      :
                        Trimester III    :
Riwayat kehamilan sekarang sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses persalinan
11.  Riwayat persalinan sekarang
Datang ke bidan tanggal. . . jam. . . .
kencang-kencang mulai kapan.
mulai keluar lendir jam berapa.
keluar darah atau tidak, jika ya, mulai jam berapa.
Ketuban pecah atau utuh, jika pecah mulai jam berapa...
12.  Pola kebiasaan sehari-hari
No
Jenis
Selama hamil
Saat Inpartu
1
Nutrisi



Pola makan



Nafsu  makan



Jenis makanan



Porsi



Minuman



Jumlah yang diminum


2
Eliminasi



BAK ( frekuensi, warna, bau, banyaknya )



BAB ( frekuensi, warna, konsistensi )



Tempat MCK


3
Isturahat



Siang ( lamanya )



Malam ( lamanya )


4
Personal hygiene



Mandi



Gosok gigi



Cuci rambut



Ganti CD


5
Kebiasaan hidup sehat



Minum-minuman keras



Obat-obatan terlarang



Merokok


Pengkajian tentang kebiasaan sehari-hari sebagai acuan gambaran kesejahteraan janin dalam Rahim
13.  Riwayat psikososial, spiritual dan ekonomi
Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan, ekonomi (diketahui dari jenis pekerjaan), pengambil keputusan dalam keluarga, tempat dan petugas kesehatan yang diinginkan ibu dalam membantu persalinan

B.DATA OBJEKTIF
1.      Pemeriksaan Umum
-    K/U           : baik / lemah
BB, TB, LILA tidak perlu dikaji lagi, tanyakan BB terakhir pada ibu atau lihat KMS
-   Kesadaran  : composmentis/ letargis
-   TD              : N : 100/ 70 -  140/100 mmHg
-   N                : N : 80-100 x / menit
-   RR             : N : 16-24 x / menit
-   S                    : N : 36,5 – 37,5 ° C
2.      Pemeriksaan Fisik.
ü Kepala           : dbn   
ü Muka             : dbn
ü Mata              : dbn
ü Gilut              : dbn
ü Leher             : dbn
ü Dada             : dbn
ü Payudara       : dbn
ü Abdomen
Inspeksi           : linea nigra (+), cloasma gravidarum (+), bekas SC (-)
Palpasi        L1 :  teraba keras dan melenting pada daerah fundus
L2 :  teraba memanjang pada perut ibu di sisi kanan atau kiri atau kedua sisi perut ibu
   L3 :  bagian bawah teraba lunak dan tidak melenting
   L4 :  mengetahui seberapa besar bagian terendah janin yang masuk PAP
Pemeriksaan DJJ      : DJJ  ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pada umbilikus Pemeriksaan TBJ, pemeriksaan HIS
-       Ekstrimitas atas dan ekstrimitas bawah 
-       Genitalia  : kondisi vagina sebagai jalan lahir sangat berpengaruh terhadap proses persalinan. Saat dilakukan VT teraba 3 tonjolan yaitu teraba 3 tonjolan tulang yaitu tubera ossis ischii dan ujung os sacrum.
ü Anus           : dbn
3.      Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang mendukung hasil pengkajian data subjektif dan data objektif. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain, test Hb, USG dan test urine.
Pada pemeriksaan USG terdapat bayangan kepla di fundus
II.  INTERPRETASI DATA DASAR
1
Dx
Ibu G2P10001 hamil 38 minggu I/T/H inpartu fase laten dengan letak bokong kaki sempurna

Ds
Ibu mengatakan hamil anak ke 2
Ibu mengatakan hamil 9 bulan
Ibu mengatakan mengeluh kencang-kencang dari perut ke pinggang mulai jam ………. Dan telah mengeluarkan lender dan darah sejak jam ……….

Do
Abdomen




Inspeksi
:
Pembesaran memanjang


L I
:
TFU 3 jari PX, fundus teraba kepala


L II
:
Puka


L III
:
Bagian terbawah bokong


L IV
:
Bokong masuk PAP


DSI
:
Normal


NIS
:
1 x tiap 20 menit lama < 20


Genetalia
:
Blood slym


VT
:
U/V DBN, eff 25% Ø2 cm, ket  +  bagian terendah bokong ( sakrum jam……..H II ) teraba anus ( lubang kecil, tidak menghisap , mekonium (+) ) teraba 2 kaki disamping bokong


USG
:
Terlihat kepala berada di bagian fundus dan bokong di bagian terbawah dan 2 kaki di samping bokong

2
Dx
Ibu G2P10001  I hamil 38 minggu I/T/H inpartu fase laten dengan letak bokong lutut tidak sempurna

Ds
Ibu mengatakan hamil anak ke 2
Ibu mengatakan hamil 9 bulan
Ibu mengatakan mengeluh kencang-kencang dari perut ke pinggang mulai jam ………. Dan telah mengeluarkan lendir dan darah sejak jam ……….

Do
Abdomen




Inspeksi
:
Pembesaran memanjang


L I
:
TFU 3 jari PX, fundus teraba kepala


L II
:
Puka


L III
:
Bagian terbawah bokong


L IV
:
Bokong masuk PAP


DSI
:
Normal


NIS
:
1 x tiap 20 menit lama < 20


Genetalia
:
Blood slym


VT
:
U/V DBN, eff 25% Ø2 cm, ket  +  bagian terendah bokong (sakrum jam……..H II) teraba 1 patella dan 1 poptilea


USG
:
Terlihat kepala berada di bagian fundus dan bokong di bagian terbawah dan 1 lutut di samping bokong






3
Dx
Ibu G2P10001  I hamil 38 minggu I/T/H inpartu fase laten dengan  letak bokong lutut sempurna

Ds
Ibu mengatakan hamil anak ke 2
Ibu mengatakan hamil 9 bulan
Ibu mengatakan mengeluh kencang-kencang dari perut ke pinggang mulai jam ………. Dan telah mengeluarkan lendir dan darah sejak jam ……….

Do
Abdomen




Inspeksi
:
Pembesaran memanjang


L I
:
TFU 3 jari PX, fundus teraba kepala


L II
:
Puka


L III
:
Bagian terbawah bokong


L IV
:
Bokong masuk PAP


DSI
:
Normal


NIS
:
1 x tiap 20 menit lama < 20


Genetalia
:
Blood slym


VT
:
U/V DBN, eff 25% portio lunak Ø2 cm, ket  +  bagian terendah lutut teraba 2 patella dan 2 poptilea


USG
:
Terlihat kepala berada di bagian fundus dan bokong di bagian terbawah dan 2 lutut di samping bokong
4
Dx
Ibu G2P10001  I hamil 37 – 42 minggu I/T/H inpartu kala I fase aktif dengan letak bokong kaki tidak sempurna

Ds
Ibu mengatakan hamil anak ke 2
Ibu mengatakan hamil 9 bulan
Ibu mengatakan mengeluh kencang-kencang dari perut ke pinggang mulai jam ………. Dan telah mengeluarkan lendir dan darah sejak jam ……….
Ibu mengatakan merasakan penuh dibagian atas dan gerakan terasa lebih banyak di bagaian bawah

Do
Abdomen




Inspeksi
:
Pembesaran memanjang


L I
:
TFU 3 jari PX (TFU 31,5 cm), fundus teraba kepala


L II
:
Puka


L III
:
Bagian terbawah bokong


L IV
:
Bokong masuk PAP


DSI
:
Normal


NIS
:
1 x tiap 20 menit lama < 20


Genetalia
:
Blood slym  (+)


VT
:
U/V DBN, eff 100% portio lunak Ø10 cm, ket  +  bagian terendah bokong ( sakrum jam……..H II ) kaki teraba 1 tumit, (teraba sudut 90°) teraba rata jari-jari.


USG
:
Terlihat kepala berada di bagian fundus dan 1 kaki di bagian terbawah
5
Dx
Ibu G2P10001  I hamil 37 – 42 minggu I/T/H inpartu kala I fase aktif dengan letak bokong kaki sempurna

Ds
Ibu mengatakan hamil anak ke 2
Ibu mengatakan hamil 9 bulan
Ibu mengatakan mengeluh kencang-kencang dari perut ke pinggang mulai jam ………. Dan telah mengeluarkan lendir dan darah sejak jam ……….
Ibu mengatakan merasakan penuh dibagian atas dan gerakan terasa lebih banyak di bagaian bawah

Do
Abdomen




Inspeksi
:
Pembesaran memanjang


L I
:
TFU 3 jari PX (TFU 31,5 cm), fundus teraba kepala


L II
:
Puka


L III
:
Bagian terbawah bokong


L IV
:
Bokong masuk PAP


DSI
:
Normal


NIS
:
1 x tiap 20 menit lama < 20


Genetalia
:
Blood slym  (+)


VT
:
U/V DBN, eff 100% portio lunak Ø10 cm, ket  +  bagian terendah kaki teraba 2 tumit, (teraba sudut 90° teraba rata jari-jari. )


USG
:
Terlihat kepala berada di bagian fundus dan 2 kaki di bagian terbawah

6
Dx
Ibu G2P10001  I hamil 37 – 42 minggu I/T/H inpartu kala I fase aktif dengan letak bokong murni

Ds
Ibu mengatakan hamil anak ke 2
Ibu mengatakan hamil 9 bulan
Ibu mengatakan mengeluh kencang-kencang dari perut ke pinggang mulai jam ………. Dan telah mengeluarkan lendir dan darah sejak jam ……….
Ibu mengatakan merasakan penuh dibagian atas dan gerakan terasa lebih banyak di bagaian bawah

Do
Abdomen




Inspeksi
:
Pembesaran memanjang


L I
:
TFU 3 jari PX (TFU 31,5 cm), fundus teraba kepala


L II
:
Puka


L III
:
Bagian terbawah bokong


L IV
:
Bokong masuk PAP


DSI
:
Normal


NIS
:
1 x tiap 20 menit lama < 20


Genetalia
:
Blood slym  (+)


VT
:
U/V DBN, eff 100% portio lunak Ø10 cm, ket  +  bagian terendah bokong ( sakrum jam……..H II ) teraba anus ( lubang kecil, tidak menghisap , mekonium (+) )


USG
:
Terlihat kepala berada di bagian fundus dan bagian terbawah adalah bokong



III.             IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
§  Asfiksia
§  Brach gagal
§  Trauma jalan lahir
§  Perdarahan
§  Atonia uteri

IV.             IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
·         Pertolongan bahu dan kepala
·         O2
·         Resusitasi
·         Management pertolongan yang benar

V.  INTERVENSI
1.   Jelaskan pada ibu tentang keadaan ibu dan janinnya
R/ ibu lebih mengerti dan kooperatif terhadap tindakan yang dilakukan
2.   Lakukan informed consent pada ibu
R/ ibu mengerti tindakan yang dilakukan sehingga ibu kooperatif
3.   Observasi DJJ dan HIS tiap 30 menit
R/ deteksi dini adanya komplikasi
4.   Pimpin ibu mengejan dengan posisi litotom
R/ deteksi persalinan berjalan lancar
5.   Lakukan Eposiotomi
R/ jalan lahir menjadi lebih luas

6.   Lakukan persalinan dengan cara Bracth
·         Segera setelah bokong tampak suntikkan oxyticin 5 UI
·         Bokong dipegang secara Bracth ( kedua ibu jari penolong sejajar dengan paha, jari-jari yang lain memegang daerah punggung )
·         Longgarkan tali pusat setelah lahirnya perut dan sebagian dada.
·         Lakukan Hyperlordosis janin pada saat angulus scapula interior tampak di bawah sympisis ( dengan mengikuti gerak rotasi anterior yaitu punggung janin didekatkan kearah perut ibu tanpa tarikan disesuaikan dengan lahirnya badan bayi.
7.   Letakkan bayi di perut ibu, bungkus bayi dengan handuk hangat
R/ meminimalisir kontaminasi bayi dengan kotoran dari ibu saat persalinan
8.   Bersihkan jalan nafas , potong tali pusat R/ aliran darah bayi segera terpisah dari ibu dan dapat terbentuk sistem yang baru
9.   Berikan pada ibu untuk laktasi R/ inisiasi dini

VI.IMPLEMENTASI
            Pelaksanaan Intervensi

VII. EVALUASI  tanggal ………. Jam ……….
S    : Ibu mengatakan lega dan bahagia karena bayinya lahir
O   : Placenta lahir spontan pervaginaan jam ………. Tanggal ………..jenis
  kelamin  ………. BB ………. Gr, PB ……….cm, menangis spontan,
  warna kulit merah, gerakan aktif, As ……….
      A   : Ibu bersalin kala III dengan luka Epositomi grade
      P    : Lakukan palpasi uterus
              Lakukan inj oxytoci 10 VI
              Lakukan PTT
              Periksa kandung kemih
              Evaluasi jumlah pendarahan
              Evaluasi jalan lahir
              Lakukan penjahitan  
II.    Catatan perkembangan tanggal ………. jam……….
S    : Ibu mengatakan ari-arinya telah keluar dan perutnya mula-mula
O   : Placenta lahir spontan pervaginaan jam ………. Tanggal ……….
Kotiledon lengkap   ………. BB ………. Gr, PB ……cm, tebal …..cm diameter …….cm, insersi tali pusat pada placenta medial, selaput ketuban utuk (lengkap
A   : Ibu bersalin kala IV
P.            Berikan kenyamanan
Berikan ibu makanan dan minuman
Pantau UC, TD dan kandung kemih, perdarahan tiap 15 menit pada 1 jam pertama dan tiap 30 menit pada jam kedua
-       Rooming in ibu dan bayi setelah kondisi bayi stabil
-       Ajari ibu cara menyusui

Lampirkan lembar penapisan, lembar observasi dan partograf









ASUHAN KEBIDANAN
PADA IBU G3P20002 HAMIL 32 MGG I/T/H
INPARTU KALA I FASE AKTIF DILATASI MAXIMAL
dengan LETAK SUNGSANG

Tempat pengkajian      : RSU MATARAM
Tanggal / waktu          : 10 Mei 2008/ 19.30 WITA
Pengkaji                      : Mahasiswa Poltekkes Malang

I.     PENGKAJIAN
  1. DATA SUBJEKTIF
1.    Biodata
Nama Ibu
: Ny. Muslimah
Nama Suami
: Tn. Muhidin
Umur
: 30 tahun
Umur
: 32 tahun
Agama
: Islam
Agama
: Islam
Suku
: Jawa
Suku
: Jawa
Pendidikan
: SMP
Pendidikan
: SMP
Pekerjaan
: IRT
Pekerjaan
: Wiraswasta
Alamat
: Jl. Jl. Bengawan No 25
Alamat
: Jl. Bengawan No 25
2.    Keluhan Utama
Ibu mengatakan hamil 8 bulan anak ke-3. Kenceng-kenceng mulai tanggal 10 Mei 2008, pukul 06.00 WITA. Ibu mengatakan ada tekanan kuat pada perut bagian atas.
3.      Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan saat ini ibu tidak sedang menderita penyakit menurun (DM, hipertensi), menular (hepatitis B, TBC, AIDS/HIV), dan sistemik (penyakit jantung, ginjal).
4.      Riwayat Kesehatan Dahulu
Ibu mengatakan ibu tidak pernah menderita penyakit menurun (DM, hipertensi), menular (hepatitis B, TBC, AIDS/HIV), dan sistemik (penyakit jantung, ginjal).

5.      Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga ibu maupun suami tidak ada yang menderita penyakit menurun (DM, hipertensi), menular (hepatitis B, TBC, AIDS/HIV), dan sistemik (penyakit jantung, ginjal) serta tidak ada riwayat kehamilan kembar.
6.      Riwayat menstruasi
Menarche    : 13 tahun                   
Banyaknya  : 2x ganti pembalut/ hari        
Siklus          : 28 hari                      
Lama           : 7 hari            
Dismenorea  : -      
HPHT         : 26-10-2007
HTP            : 02-08-2008
Fluor albus  : -        
7.      Riwayat pernikahan
Status pernikahan : Sah    
Pernikahan ke-       : 1
Lama pernikahan   : 1 tahun
Istri ke-                  : 1        
Usia awal menikah : 19 tahun
8.      Riwayat Obstetri
NO
kehamilan
Persalinan
anak
nifas
laktasi
ke
Usia
Komp
jns
penlng
tmp
komp
Sex
L/P
BB/PB
H/M
T/G
usia
Lama
Komp
lama
komp
1.
I
32 mg
-
Spt B
dukun
rmh
-
L
-
H
T
11 th
40 hr
-
2 th
-
2
II
36 mg
-
Spt B
Bidan
BPS
-
P
3 kg / 49 cm
H
T
9 th
42 hr
-
2 th
-
3.
H
A
M
I
L

I
N
I








9.      Riwayat KB
Ibu mengatakan menggunakan alat kontrasepsi jenis KB suntik.
10.  Riwayat kehamilan sekarang
ANC sejak UK 1 bulan
                        TM I    1x, di puskesmas
                        TM II   1x, di puskesmas
                        TM III  3x, di Rumah sakit
Imunisasi TT           : 2x     
                        Terapi              : Fe, Vit. C
                        Keluhan umum: TM I             : mual muntah
                                                  TM II                        : -
                                                  TM III                       : adanya tekanan kuat pada perut bagian atas
                        Gerakan janin  : Ibu merasakan gerakan janin sejak usia kehamilan 5 bulan
11.  Riwayat persalinan sekarang
Ibu datang ke bidan tanggal 10-05-08 jam 19.30  WITA mengeluh kenceng-kenceng sejak tanggal 10-05-08  jam 06.00 WITA, mulai keluar lendir bercampur darah tanggal10-05-08  jam 18.00 WITA dan ketuban merembes sejak pukul 19.00 WITA tanggal 10-05-08
12.  Pola kehidupan sehari-hari
NO.
JENIS
SELAMA HAMIL
SELAMA INPARTU
1.
NUTRISI



Nafsu makan
baik
Kurang

Pola makan
3x/hari
-

Jenis makanan
Nasi, lauk(ikan),sayur
Roti

Porsi
1 piring
1 piring (dimakan 3 sendok)

Minuman
Air putih + susu
Air putih dan minuman isotonik

Jumlah yang diminum
7-8 gelas/hari + 1 gelas susu
½ botol isotonik dan 1 gelas air putih
2.
ELIMINASI



BAK(frekuensi, warna,bau,banyaknya)
5-6 x / hari, kuning jernih, amoniak
1 kali

BAB(frekuensi,warna,konsistensi)
1x/hari
-

Tempat BAB
Jamban pribadi
-
3.
ISTIRAHAT



Siang(lamanya)
1 jam/hari
-

Malam(lamanya)
6-7 jam/hari
-
4.
PERSONAL HYGIENE



Mandi
2x/hari
-

Gosok gigi
3x/hari
-

Keramas
3x/minggu
-

Ganti CD
2x/hari
-
5.
KEBIASAAN HIDUP SEHAT



Merikok
-
-

Minum-minuman keras
-
-

Narkoba
-
-
13.  Riwayat psikososial-spiritual-ekonomi
Ibu mengatakan bahwa pengambil keputusan dalam keluarga adalah suami.  Ibu, suami dan keluarga sangat senang dan sangat mengharapkan kehamilan ini. Ibu, suami dan keluarga merencanakan persalinannya nanti berlangsung di Rumah sakit dibantu oleh bidan.
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
       KU             : baik
       Kesadaran  : composmentis
       TB/BB        : 157 cm / 55 kg
       Lila             : 23,5 cm
       TD              : 120/80 mmHg
       N                : 86x/menit
       Rr               : 20x/menit
       Suhu           :36,4°C
2. Pemeriksaan fisik (head to toe dari inspeksi, palpasi, perkusi dan juga auskultasi)
Kepala      : rambut bersih, rontok (-), benjolan (-)
Muka        : pucat (-), oedema (-), cloasma gravidarum (-)
Mata         : konjungtiva tidak anemis  Sklera tidak ikterus
Hidung     : simetris, bersih, benjolan (-), sekret (-)
Mulut       : bibir lembab, bersih, pucat (-), stomatitis (-), lidah bersih, ginggivitis (-), caries gigi (-)
Telinga     : simetris, bersih
Leher        : pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe - , bendungan vena jugularis (-)
Dada        : simetris, mamae bersih, mamae tegak, hiperpigmentasi areola dan papila  mamae +/+, puting susu menonjol +/+, retraksi -, benjolan -/-,     colostrum -/-,            ronchi (-), wheezing (-)
Thoraks    : Jantung dalam batas normal  Paru dalam batas normal
Abdomen  :
·  Inspeksi : Membuncit sesuai usia kehamilan aterm, linea nigra hiperpigmentasi, striae gravidarum (+), Sikatrik (-)
·  Palpasi   : 
L1   : TFU teraba 4 jari bawah processus xipoideus, teraba masa bulat, keras, melenting
L2   : Tahanan terbesar di kiri, bagian-bagian kecil di kanan           
L 3 : Teraba masa besar, lunak, noduler (presentasi bokong)     
L 4 : Bagian terbawah janin sudah masuk PAP
TFU       : 27 cm
TBJ        : 2511 gr          
His    : (+) 2x/ 10’ ∞ 30”
·  Auskultasi  : Bising usus (+) Normal, DJJ : 13 – 12 – 13, teratur.
Genitalia               : Eksterna : Oedem (-), varises (-)
Interna   : VT (19.30 WITA, 10-06-2008/ ) :u/v taa, portio teraba lunak, eff 75%, Ø 7 cm, ket (-), teraba bokong (presentasi bokong) H III, tidak ada bagian kecil yang menumbung.
Ekstremitas          :  atas       : oedema -/-
 bawah   : oedema -/-, varises -/-
3. Pemeriksaan penunjang
Hb            : 9,7 gr%
Leukosit   : 13.300/mmb3
Trombosit : 269.000/mm3
USG         : terdapat bayangan kepala di fundus uteri  ( tgl 07-06-2008 )

II. INTERPRETASI DATA DASAR          
Dx  : Ibu G3P20002 hamil 32 mgg I/T/H inpartu kala 1 fase laten
Ds   : Ibu mengatakan hamil 9 bulan anak ke-3. Kenceng-kenceng mulai tanggal 10 Mei 2008, pukul 06.00 WITA, keluar lendir bercampur darah dari kemaluan sejak pukul 18.00 (10-05-08). dan ketuban pecah tanggal 10-05-08 jam 19.00
HPHT : 3-8-2007
Do  : Abdomen     
· Inspeksi      : Membuncit sesuai usia kehamilan aterm, Linea Mediana hiperpigmentasi, striae gravidarum (+), Sikatrik (-)
· Palpasi        : L1 : TFU teraba 4 jari bawah processus xipoideus, teraba masa bulat, keras, melenting
L2   : Tahanan terbesar di kiri, bagian-bagian kecil di kanan           
L 3 : Teraba masa besar, lunak, noduler (presentasi bokong)        
L 4 : Bagian terbawah janin sudah masuk PAP
TFU menurut MD : 27 cm
TBJ    : 2511 gr          
His  : (+) 2x/ 10’ ∞ 30”
· Auskultasi  : Bising usus (+) Normal, DJJ : 13 – 12 – 13, teratur.
Genitalia: Eksterna   : Oedem (-), varises (-)
Interna     : VT (19.30 WITA, 10-06-2008/ ):u/v taa, portio teraba lunak, eff 25%, Ø 2 cm, ket (+), teraba bokong (presentasi bokong), H I,  teraba anus ( lubang kecil, tidak menghisap , mekonium (+) ) teraba 2 kaki disamping bokong
III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
§  Asfiksia
§  Brach gagal
§  Trauma jalan lahir
§  Perdarahan
§  Atonia uteri


IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
·         Pertolongan bahu dan kepala
·         O2
·         Resusitasi
·         Management pertolongan yang benar


V. INTERVENSI
1.  Jelaskan pada ibu tentang kondisinya dan janinnya
     R/ Ibu lebih mengerti dan kooperatif
2.    Lakukan observasi  TTV , DJJ, HIS dan pembukaan
R/ pemantauan kondisi ibu dan janin
3.    Anjurkan ibu untuk makan dan minum
R/ bahan makanan dan minuman merupakan pembangkit tenaga
4.    Anjurkan ibu untuk tidur dengan posisi miring kiri.
R/ mempercepat penurunan bagian terbawah janin dan memperlancar peredaran darah utero plasenta.
5.    Ajari ibu cara meneran yang baik dan efektif.
R/ Membantu proses persalinan dan mencegah pengeluaran tenaga yang sia-sia.
6.    Beritahu ibu dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan.
R/ mencegah kesalahpahaman antara ibu dan bidan
7.      Lakukan pertolongan persalinan sungsang sesuai dengan protap
R/ melakukan pelayanan sesuai standart dan wewenang sebagai bidan

VI. IMPLEMENTASI
  1. Menjelaskan pada ibu tentang kondisinya dan janinnya bahwa keadaan ibu dan janinnya baik-baik saja sehingga ibu mengerti dan lebih kooperatif dan proses persalinan berjalan lancer. Menjelaskan pula kepada ibu bahwa janinnya dalam posisi sungsang.
  2. Melakukan observasi  tekanan darah, suhu dan pembukaan setiap 4 jam. DJJ, HIS dan nadi setiap 30 menit serta mencatat semua hasil pemeriksaan di partograf
  3. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum yaitu makanan yang berkarbohidrat untuk membangkitkan tenaga ibu
  4. Menganjurkan ibu untuk tidur dengan posisi miring kiri.
  5. Mengajari ibu cara meneran yang baik dan efektif.
-          Menarik napas dari hidung lalu keluarkan melalui mulut
-          Pada saat meneran mata tidak terpejam dan dagu menempel pada dada
-          Pada saat meneran posisi tangan menarik lipatan paha
  1. Memberitahu ibu dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman antara bidan, ibu dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan
  2. Melakukan pertolongan persalinan sungsang sesuai protap

VII.EVALUASI
       Tanggal : 10-06-2008                                           Jam : 20.00  WITA
S   : Ibu mengatakan kenceng-kencengnya bertambah sering, ibu mengatakan mengeluarkan lendir
O : - K/U Ibu   : baik
- Kesadaran : Composmenitis
- T D            : 120/80 mmhg
- N               : 84 x/menit
- S                : 36º C 
- RR             : 22 x/menit
- VT (20.00 WITA, 10-06-2008/ ):u/v taa, portio teraba lunak, eff 25%, Ø 2 cm, ket (-),teraba bokong (presentasi bokong), H I,  teraba anus ( lubang kecil, tidak menghisap , mekonium (+) ) teraba 2 kaki disamping bokong
A  : Ibu G3P20002 hamil 32 mgg I/T/H inpartu kala I fase laten
P  : - Observasi kemajuan pasca persalinan
- manganjurkan ibu miring ke kiri
- mempersiapkan alat-alat untuk persalianan

CATATAN PERKEMBANGAN
1. Tanggal : 10-06-2008                             Jam : 23.30 WITA
S   : Ibu mengatakan perutnya semakin kencang
O  : TD  : 110 / 80 mmHg
       N     : 84 x/menit
       S          : 36º C
       RR       : 22 x/menit
VT (20.30 WITA, 10-06-2008/ ):u/v taa, portio teraba lunak, eff 75%, Ø 6 cm, ket (+),teraba bokong (presentasi bokong), H I,  teraba anus ( lubang kecil, tidak menghisap , mekonium (+) ) teraba 2 kaki disamping bokong
A  : Ibu G3P20002 hamil 32 mgg I/T/H inpartu kala I fase aktif dilatasi maksimal
P  : Observasi kemajuan pasca persalinan
- manganjurkan ibu miring ke kiri
- mempersiapkan alat-alat untuk persalianan


Tanggal : 11-06-2008                                 Jam : 02.00 WITA
S   : Ibu mengatakan perutnya semakin kencang dan ingin BAB
O  : TD  : 110 / 80 mmHg
       N     : 84 x/menit
       S          : 36º C
       RR       : 22 x/menit
VT (20.30 WITA, 10-06-2008/ ):u/v taa, portio teraba lunak, eff 100%, Ø 10 cm, ket (-),teraba bokong (presentasi bokong), H I,  teraba anus ( lubang kecil, tidak menghisap , mekonium (+) ) teraba 2 kaki disamping bokong
A  : Ibu G3P20002 hamil 32 mgg I/T/H inpartu kala II
P  : - Pimpin ibu untuk meneran bila ada his
-   Siapkan partus set
-   Meminta keluarga untuk membantu ibu meneran
-   Menganjurkan ibu untuk istitahat bila tidak ada kontraksi

Prosedur perslinan sungsang
waktu
Keterangan
20.00
1.    Adanya tanda dan gejala kala II

2.    Menyiapkan alat dan menyiapkan diri
20.30
3.    Memastikan pembukaan telah benar-benar lengkap dan mendengarkan DJJ

4.    Menyiapkan Ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan meneran, Ibu disposisi litotomi, desinfeksi vulva dan perineum dengan betadine, amankan dengan duk steril

5.    Bersamaan adanya his, Ibu dipimpin mengejan.
20.45
6.    Saat bokong crowning dengan diameter 3-5 cm, dilakukan episiotomy mediolateralis
20.48
7.    Saat bokong membuka vulva dengan diameter 3-5 cm melindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi duk, dan menyuntikkan oksitosin 5 unit 1 M penolong menunggu sampai seluruh bokong anak lahir
20.50
8.    Setelah bokong lahir, bokong dipegang secara fumeropelvik, Ibu terus dipimpin mengejan sampai umbilicus di luar vulva , tali pusar dikendorkan.

9.    Setelah ujung tulang belikat lahir, bokong di arahkan ke atas (hiperlordose) kea rah perut ibu, sambil dilakukan ekspresi dari luar
Bila terjadi kemacetan bahu dan lengan ujung tulang belikat tidak cepat lahir, terjadi kemacetan bahu dan lengan, lalu melahirkan bahu dan lengan dengan cara (Deventer/ klasik/ laset/ muller)
20.58
10.             Dilanjutkan dengan melahirkan kepala dengan cara mauriceau, sambil dilakukan ekspresi dan luar.
21.00
11.             Bayi lahir jam 21.00 WITA, BB 2.400 GR,  JK ♂, AS 7/8
21.05
12.             Segera dilakukan perawatan BBL








PROSEDUR TETAP PERSALINAN SUNGSANG RSUD KALISAT


LAPORAN PERSALINAN SUNGSANG
1)      Adanya tanda dan gejala kala II
2)      Menyiapkan alat dan menyiapkan diri
3)      Memastikan pembukaan telah benar-benar lengkap dan mendengarkan DJJ
4)      Menyiapkan Ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan meneran, Ibu disposisi litotomi, desinfeksi vulva dan perineum dengan betadine, amankan dengan duk steril
5)      Bersamaan adanya his, Ibu dipimpin mengejan.
6)      Saat bokong crowning dengan diameter 3-5 cm, dilakukan episiotomy mediolateralis
7)      Saat bokong membuka vulva dengan diameter 3-5 cm melindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi duk, dan menyuntikkan oksitosin 5 unit 1 M penolong menunggu sampai seluruh bokong anak lahir
8)      Setelah bokong lahir, bokong dipegang secara fumeropelvik, Ibu terus dipimpin mengejan sampai umbilicus di luar vulva , tali pusar dikendorkan.
9)      Setelah ujung tulang belikat lahir, bokong di arahkan ke atas (hiperlordose) kea rah perut ibu, sambil dilakukan ekspresi dari luar
                                                              i.      Bila terjadi kemacetan bahu dan lengan ujung tulang belikat tidak cepat lahir, terjadi kemacetan bahu dan lengan, lalu melahirkan bahu dan lengan dengan cara (Deventer/ klasik/ laset/ muller)
10)  Dilanjutkan dengan melahirkan kepala dengan cara mauriceau, sambil dilakukan ekspresi dan luar.
11)  Bayi lahir jam … BB … JK … AS …
12)  Segera dilakukan perawatan BBL






0 komentar:

Poskan Komentar

Beri komentar bijak Anda kepada kami...!!!

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.